Make your own free website on Tripod.com

 

Posted 27 July 2001 [rudyct]  

 

TINJAUAN EKONOMI PENGAWETAN KAYU

 

Oleh:

Nurul Puspita Palupi
P 25500021-TIP

 

Pendahuluan

Kayu telah menjadi bagian dari kehidupan manusia, karena kayu telah banyak digunakan sebagai alat perlengkapan sehari-hari mengingat beberapa karakteristik khas kayu yang tidak dijumpai pada bahan lain, yaitu : (1) tersedia hampir di seluruh dunia, (2) mudah diperoleh dalam berbagai bentuk dan ukuran, (3) relatif mudah pekerjaannya, (4) penampilan sangat dekoratif dan alami, serta (5) relatif ringan.

Kayu merupakan komponen penting dalam bangunan perumahan, khususnya untuk kusen, pintu, jendela dan bagian-bagian lain dari suatu bangunan perumahan. Penggunaan kayu juga semakin berkembang, tidak hanya menjadi komponen konstruksi bangunan, namun juga sebagai bahan baku perangkat interior. Banyaknya penggunaan kayu dan semakin tingginya minat masyarakat akan produk-produk olahan kayu membuat hasil hutan ini mampu menempati posisi penting dalam peringkat kebutuhan masyarakat.

Di sisi lain, kayu juga memiliki kelemahan, antara lain dapat dirusak atau dilapuk oleh organisme perusak kayu, berupa serangga dan jamur. Akibatnya, umur kayu menjadi menurun. Padahal, nilai suatu jenis kayu untuk keperluan bangunan perumahan dan perangkat interior sangat ditentukan oleh keawetannya, karena bagaimanapun kuatnya kayu tersebut, penggunaannya tidak akan berarti jika umur pakainya pendek.

Banyak sekali kasus perusakan kayu oleh organisme perusak kayu seperti serangga, jamur, dan bakteri-bakteri perusak kayu lainnya yang menimpa bangunan-bangunan perumahan. Bahkan 70-85% kayu yang diproduksi di dunia tergolong sangat rentan terhadap serangan organisme perusak.

Fenomena inilah yang mendorong pemerhati kayu dan hasil-hasil hutan melakukan upaya-upaya pengawetan kayu, diantaranya adalah dengan melapisi kayu dengan bahan-bahan beracun sehingga kayu tersebut tidak terserang oleh organisme perusak kayu. Kasus perusakan kayu oleh organisme perusak ini tidak hanya menimbulkan masalah secara teknis, namun juga secara ekonomis. Masalahnya, pemberian bahan pengawet tidak pelak meningkatkan harga kayu yang diawetkan jauh lebih tinggi di atas kayu yang tidak diawetkan.

Hal ini yang menyebabkan upaya pengawetan kayu tidak berjalan dengan baik, terutama di negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Selain karena keberadaan kayu di hutan-hutan di Kawasan Inonesia masih tersedia dalam jumlah yang cukup, juga karena faktor perekonomian masyarakat ndonesia yang rendah. Padahal, jika kita mau berhitung, secara ekonomis, biaya yang dikeluarkan untuk membongkar dan memasang kayu baru untuk mengganti kayu yang rusak karena rayap sama bahkan lebih besar dibandingkan jika kita melakukan pengawetan pada kayu sebelum dipasang. Memang, pada awalnya terasa berat mengeluarkan sejumlah uang dalam jumlah yang cukup besar untuk pengadaan kayu yang telah diawetkan, namun besarnya dana yang kita keluarkan tersebut akan seimbang dengan hasil yang kita dapatkan daripada harus setiap periode tertentu mengganti kayu yang tidak hanya merugikan secara ekonomis karena harus menggaji buruh, juga memakan banyak waktu dan membuang energi percuma.

Hal lain yang juga menjadi penyebab tidak majunya upaya pengawetan di Negara kita adalah rendahnya pemahaman masyarakat pengguna kayu mengenai pentingnya usaha pengawetan kayu.

Pada tulisan ini akan dikupas aspek-aspek ekonomis pengawetan kayu dengan mengacu pada beberapa literatur dan hasil penelitian yang terkait erat dengan kajian ekonomi pengawetan kayu untuk bangunan perumahan di wilayah Bogor.

 

Kayu Gergajian

Kayu yang diperdagangkan dalam negeri sebagian besar merupakan kayu-kayu dengan kelas keawetan alami yang rendah. Konsumsi kayu dengan kualitas semikian ini merupakan imbas dari kelangkaan kayu berkeawetan tinggi. Ini terlihat dari komposisi kayu yang diperdagangkan di Jawa, yang terdiri dari 48% jenis Meranti (kelas awet III-IV), 15% Terentang (kelas awet V), 8.9% Keruing (kelas awet III), 5.2% Kamper (kelas awet III) dan sisanya (22.2%) merupakan kayu dengan jenis lain. Data ini diperkuat dengan laporan hasil pengambilan contoh kayu Borneo yang diambil dari bangunan real estate yang terdiri dari 68% Terentang, 27% Rengas (kelas awet II-III) dan sisanya (5%) berupa campuran Meranti merah, Mersawa, Gia, Nyatoh, dan Ieda.

Berdasarkan data dari Dinas Kehutanan DKI Jaya, disebutkan bahwa 66.1% kayu gergajian di DKI Jaya digunakan untuk perumahan. Apabila taksiran kebutuhan perumahan sepanjang tahun 2001 adalah sebesar 1800000 buah/tahun, dengan kebutuhan rata-rata 2 m3 kayu gergajian untuk setiap rumah, maka diperlukan sekitar 3600000 m3 kayu/tahun. Sebagai asumsi tertinggi, maka kebutuhan kayu untuk perumahan diperkirakan sekitar5 juta m3/tahun. Apabila dihubungkan dengan kenyataan bahwa sekitar 80-85% dari seluruh kayu bahan perumahan merupakan kayu yang tidak awet, maka setiap tahun terdapat sekitar 2880000-3060000 m3 kayu untuk perumahan yang tidak awet.

Kayu yang tidak awet yang digunakan untuk perumahan dan gedung akan mengalami kerusakan dalam jangka waktu 5 tahun bila tidak diawetkan terlebih dahulu. Namun, jika dilakukan pengawetan, kayu yang sama akan mampu bertahan hingga 15 tahun. Dalam jangka waktu 15 tahun pertama, kayu yang dibutuhkan untuk membangun dan mengganti bagian rumah serta gedung yang lapuk (tidak diawetkan) sebesar 86.4-127.5 juta m3, sedangkan pada bangunan dengan bagian kayu yang diawetkan hanya dibutuhkan sebanyak 43.2-63.75 juta m3 kayu untuk membangun saja. Artinya, dalam jangka waktu 15 tahun pertama, volume kayu yang dibutuhkan untuk mengganti kayu yang rusak sama dengan volume yang dibutuhkan untuk membangun perumahan dan gedung dengan memakai kayu yang diawetkan. Dari sisi penghematan, volume rata-rata kayu yang dapat dihemat melalui pengawetan dalam jangka waktu 15 tahun pertama adalah 2.88-4.25 juta m3/tahun. Jumlah tersebut sama dengan 5.76-8.5 juta m3 kayu bulat. Jika dikonversikan, ,jumlah itu setara dengan hutan seluas 38399.6-56666.09 hektar dengan asumsi potensi 150 m3 kayu per hektarnya. Dari perhitungan tersebut terlihat bahwa melalui pengawetan kayu perumahan dan gedung kurang lebih 38399.6-56666.09 hektar hutan dapat dikonversi setiap tahunnnya. Jika dibandingkan dengan produk kayu bulat pada tahun 1988/1989 sebesar 26.398 juta m3, maka dapat dikatakan bahwa pengawetan kayu dan gedung dapat menghemat sekitar 21.8 – 32.2%.

Pada 15 tahun kedua dan seterusnya penghematan penggunaan kayu bulan tersebut akan semakin besar. Apabila pemakainan kayu rata-rata per tahun dihitung dengan menggunakan rumus :

 

                                       dimana :        A = biaya pemakaian rata-rata per tahun       

                                             r = bunga bank

                                            n = umur pakai

                    p = harga kayu

Setelah dihitung, pada 15 tahun kedua dan ketiga masing-masing adalah sebesar 4.324 –6.381 juta m3 dan 4.809-7.098 juta m3 kayu gergajian dapat dihemat.

Berdasarkan hasil perhitungan untuk tahun 1991, dengan berpatokan pada harga kayu tanpa pengawetan dan yang diawetkan untuk kayu campuran masing-masing sebesar RP. 140000 dan Rp. 177500 per m3. Bila umur pakainya masing-masing 5 dan 15 tahun dengan bunga sebesar 18%, maka biaya pemakaian kayu untuk perumahan dan gedung tanpa dan dengan diawetkan masing-masing sebesar Rp. 44768 m3/tahun dan Rp. 34861 m3/tahun. Begitu pula dengan perhitungan untuk tahun 1994, bila harga kayu campuran Rp. 240000 per m3 dengan biaya pengawetan Rp. 60000 per m3 maka harga kayu yang diawetkan menjadi Rp. 300000. Dengan bunga yang sama (18%) per tahun, maka biaya pemakaian rata–rata per tahun setiap m3 nya untuk kayu yang tidak diawetkan dan yang dilakukan pengawetan masing-masing sebesar Rp. 76747 dan Rp. 58920.

Dari perhitungan di atas tampak bahwa dari segi ekonomi, upaya pengawetan kayu memberikan keunggulan meskipun biaya yang dikeluarkan pada awal penggunaan kayu yang diawetkan tersebut lebih besar dibanding dengan kayu yang tidak diawetkan. Kelebihan lain yang dimiliki oleh kayu yang telah mengalami proses pengawetan adalah kaitannya dengan biaya pemasangan, biaya perawatan, keusangan, nilai rongsokan, terbukanya peluang kerja serta pasaran kayu.

 

Biaya Pemasangan

Biaya penggantian bagian bangunan asal kayu hampir selalu lebih tinggi dari pada biaya pemasangan awal, karena didalamnya harus memasukkan biaya pemindahan bahan yang lama dan biaya tenaga kerja dalam kondisi yang jauh kurang menguntungkan apabila dibandingkan dengan waktu mengerjakan bangunan awal. Biaya papan kayu yang telah diberi bahan pengawet dengan sendirinya lebih besar dari pada kayu yang tidak diberi bahan pengawet, namun dengan mengawetkan kayu akan sangat mengurangi biaya bongkar pasang untuk mengganti kayu perumahan atau gedung asal yang rusak akibat gangguan organisme perusak kayu. Jika diasumsikan umur pakai kayu tanpa pengawetan adalah selama 5 tahun dan kayu yang diawetkan memiliki umur pakai 15 tahun, maka untuk kayu yang tidak diawetkan harus dilakukan 3 kali bongkar pasang, dengan kata lain, dengan menggunakan kayu yang diawetkan berarti telah melakukan penghematan pengeluaran bongkar pasang 3 kali lebih kecil dari kayu yang tidak diawetkan.

Dengan dasar itulah maka dengan menggunakan kayu yang diawetkan telah mampu menurunkan biaya bongkar pasang, yang didalamnya terdapat biaya tenaga kerja, dan investasi waktu yang tidak sedikit.

Meskipun biaya-biaya pemasangan kayu yang telah diawetkan 21 kali lebih tinggi dari biaya pemasangan kayu-kayu yang tidak diawetkan, kayu-kayu yang diawetkan umumnya lebih ekonomis, terutama jika digunakan di daerah-daerah dimana kondisi perusakan terhadap kayu terjadi dengan cepat akibat pemasukan atau pengrusakan oleh organisme perusak kayu.

 

Biaya Perawatan dan Keusangan

Bangunan dari kayu yang tidak diawetkan biasanya membutuhkan berulang kali perbaikan untuk mempertahankan kondisinya agar tetap dapat dipakai dan dalam beberapa hal, biaya perawatan yang harus dikeluarkan menjadi tinggi setelah beberapa tahun, sehingga dapat dikatakan lebih ekonomis untuk membangun kembali seluruh bangunan dengan bahan yang lebih tahan lama dari pada terus menerus memperbaharuinya.

Keusangan berkaitan dengan desain atau model yang mungkin tidak lagi sesuai dengan jaman atau peradaban yang berubah dari masa-ke masa. Dibandingkan dengan bahan lain yang umumnya digunakan sebagai bahan bangunan, beton misalnya, kayu yang berbahan pengawet meski telah ketinggalan jaman atau usang tetap bisa digunakan untuk keperluan lain yang lebih mengikuti perkembangan jaman. Sebaliknya, beton yang tidak lagi bisa digunakan akan sangat sulit difungsikan atau dirubah menjadi bentuk yang lain karena berat yang dimilikinya menyulitkan upaya pemindahan. Hal ini berkaitan dengan fleksibilitas kayu yang lebih tinggi dibanding beton atau perangkat bangunan lain khususnya dalam hal penyesuaian terhadap perubahan keinginan konsumen akan mode atau penyesuaian dengan perubahan jaman.

 

Nilai Rongsokan

Penggunaan suatu bahan kadang tidak mencapai batas umur pakai bahan tersebut. Hal ini umumnya dipengaruhi oleh tingkat keinginan pemilik bahan, perubahan mode, kejenuhan pengguna, dan faktor-faktor lainnya. Jika suatu barang tidak lagi diinginkan atau tidak lagi dapat memenuhi keinginan pengguna sebelum mencapai masa pakai maksimum, maka dapat dikatakan bahwa barang tersebut telah menjadi barang rongsokan. Apabila telah mencapai fase seperti ini, kayu-kayu yang telah diawetkan umumnya dapat diperbaiki dengan biaya yang rendah dan dapat digunakan kembali dengan baik. Bahan lainnya, seperti baja atau beton kadang dapat diselamatkan dari keusangan, namun untuk merubahnya menjadi barang yang bisa bermanfaat lagi dibutuhkan biaya besar. Beton tidak memiliki nilai rongsokan dan sangat mahal untuk mendaur ulangnya bila diperlukan upaya pembongkaran.

 

Pasaran Kayu dan Tenaga Kerja

Alternatif pengawetan kayu ini memiliki prospek cerah di masa mendatang mengingat ada beberapa daerah yang potensi perkayuannya rendah, masalah lambatnya pertumbuhan kayu, dan masalah lain yang berkaitan dengan minimnya produk kehutangan. Wilayah-wilayah inilah yang merupakan sasaran penjualan bagi negara lain yang memiliki hasil hutan berlimpah. Negara-negara yang telah memahami konsep pengawetan kayu akan dengan mudah memasukkan inovasi dan ide pengawetan untuk meningkatkan nilai penjualan produknya.

Dengan memperpanjang umur pakai jenis kayu yang memiliki keawetan alami yang rendah dan kayu-kayu berkualitas rendah melalui pengawetan kayu, berarti telah membantu menghindari habisnya beberapa jenis kayu yang disukai. Selain itu, melalui pengawetan, kayu dengan keawetan rendah dapat dimanfaatkan menjadi barang yang bermanfaat dengan tingkat keawetan tinggi. Kayu dengan keawetan alami tinggi dapat diekspor atau dimanfaatkan untuk kebutuhan lain yang yang diharapkan lebih dapat menyerap devisa dan keuntungan yang berlipat.

Munculnya alternatif pengawetan kayu memberi peluang berdirinya industri jasa pengawetan yang juga merupakan pintu terbukanya lapangan kerja baru, meski dalam jumlah yang relatif kecil. Pembangunan industri pengawetan harus disesuaikan dengan banyaknya kayu yang harus diawetkan. Sebagai gambaran, apabila semua kayu yang harus diawetkan dilakukan dengan proses sel penuh, dengan kapasitas tangki pengawet 20 m3, dan dalam sehari mampu mengawetkan tiga kali (250 hari kerja setiap tahunnya), maka dapat dibangun industri jasa pengawetan sebanyak 166-225 buah. Dan jika setiap industri jasa ini mempekerjakan 60 orang, maka akan tersedia lapangan kerja bagi 10000-13500 orang. Kesempatan ini belum termasuk tenaga yang bekerja dalam jual beli atau peredaran bahan pengawet. Artinya, upaya pengawetan juga memberikan peluang bagi terbukanya lapangan kerja bagi masyarakat sekitar pabrik.

 

Target Pengembang

Menjamurnya perumahan di wilayah Kotamadya Bogor, tidak terlepas dari tingginya pertumbuhan penduduk Kotamadya Bogor sebesar 3.09% per tahun dan anggapan positif dari masyarakat bahwa Bogor merupakan wilayah yang nyaman sebagai tempat tinggal dan posisinya yang dekat dengan pusat kegiatan (Jakarta).

Dalam konteks pengembangan usaha pengawetan kayu perumahan, tingginya kebutuhan masyarakat akan perumahan merupakan sarana atau peluang mengenalkan dan menunjukkan kepada masyarakat pentingnya keawetan kayu perumahan. Jika dilihat dari kebutuhan kayu di masa mendatang dan menipisnya potensi hutan Indonesia, maka akan sangat relevan jika pengembang mulai memikirkan dan melakukan upaya pengawetan kayu perumahan yang dikembangkannya. Upaya mengenalkan dan menunjukkan suatu hasil pemikiran yang positif kepada masyarakat memang menjadi suatu keharusan mengingat kondisi dan pola pikir masyarakat kita yang baru mau mengadopsi suatu pemikiran jika dirinya telah mengetahui keunggulan teknologi yang ditawarkan tersebut. Dan jika sumber kebijakan pembangunan perumahan terletak di tangan pengembang, maka diharapkan pengembang memiliki wawasan mengenai pengawetan kayu perumahan dan memiliki kemauan untuk menerapkan ilmu pengawetan kayu pada kawasan yang sedang digarapnya. Jika mau berpikir jauh ke depan, sebetulnya proyek pengawetan yang diterapkan ini akan menjadi aset daya tarik konsumen dan menjadi kunci pemasaran perumahan yang dibangun oleh para pengembang. Di sisi lain, secara tidak langsung, kegiatan ini menjadi sarana propaganda tercapainya sasaran pengawetan kayu di seluruh Indonesia. Ini menjadi penting karena usaha yang besar harus dimulai dengan merintis usaha pada skala yang kecil dahulu.

Menurut hasil penelitian Ridwan (2000), beberapa pengembang di kawasan kotamadya Bogor telah melakukan upaya pengawetan kayu, diantaranya adalah pengembang Taman Sari Persada, Ranca Maya, Villa Intan Pakuan, Taman Yasmin, dan pengembang Villa Kebun Raya. Tiga dari lima pengembang menggunakan bahan pengawet anti rayap. Ketiga oengembang tersebut adalah pengembang Taman Sari Persada, Ranca Maya, dan Villa Intan Pakuan. Ketiganya melakukan pengawetan dengan jalan penyemprotan dan perendaman tanpa vakum tekan. Pengembang Taman Yasmin dan perumahan Villa Kebun Raya menggunakan bahan pengawet Impralit CKB dengan metode perendaman. Sayangnya, langkah-langkah pengawetan kayu yang mereka lakukan belum sempurna sehingga hasilnya juga belum maksimal.

Pengembangan pengawetan dalam skala kecil memang membutuhkan waktu yang tidak singkat, namun, upaya pengawetan kayu perumahan yang dilakukan oleh beberapa pengembang di wilayah Kotamadya Bogor tersebut merupakan hal yang patut dijadikan cermin sejauh mana usaha pengawetan kayu perumahan telah dilakukan. Dan yang terpenting adalah bahwa upaya yang mengarah ke arah pengawetan kayu telah dimulai.

Sejauh ini memang sangat jarang atau belum ada pengembang yang berani menawarkan aplikasi pengawetan kayu dan tingkat keawetan kayunya sebagai aset dan faktor daya tarik penjualan produk perumahannya. Hal ini mungkin disebabkan oleh minimnya edukasi masyarakat kita akan pentingnya pengawetan kayu dan terbentur pada masalah ekonomi yang belum menentu. Secara ekonomi, para pengembang tentu akan dapat menarik keuntungan ganda dalam penjualan perumahan yang dikembangkannya apabila mereka menggunakan sistem pengawetan kayu perumahannya, karena dengan mengaplikasikan sistem pengawetan sudah barang tentu akan menghindarkan kerusakan kayu yang dimilikinya dalam jangka waktu yang panjang selama masa simpan dan sekaligus dapat dimanfaatkan menjadi lahan bagus dalam meningkatkan kemampuan jual perumahannya. Tapi yang terpenting, untuk mencapai itu semua dibutuhkan kesadaran masyarakat pengguna atau konsumen perumahan, pendidikan tentang pengawetan kayu, dan kemantapan perekonomian.

 

Penutup

Upaya pengawetan kayu memberikan keuntungan-keuntungan secara ekonomi. Disadari atau tidak, munculnya ilmu pengawetan merupakan suatu terobosan penting untuk menyelamatkan hutan Indonesia dari eksploitasi tanpa henti dan menjadi solusi menipisnya hasil hutan.

Untuk mensukseskan program pengawetan kayu perumahan memang harus dimulai dari pemberian edukasi mengenai pentingnya pengawetan kayu, penyadaran dan kemantapan perekonomian masyarakat.

Bogor, 19 Juli 2001

Bahan Bacaan

Abdurrohim, S. 1998. Pengawetan Kayu Untuk Bangunan Perumahan. Pusat Pengembangan Hasil Hutan. Bogor.

Ginting, J. 1999. Manfaat Ekonomi Pengawetan Kayu Bahan Bangunan Perumahan. Skripsi. Jurusan Teknologi Hasil Hutan. Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor.

                http://www.preservedwood.com

Jusmalinda. 1994. Perkiraan Kerugian Ekonomis Akibat Serangan Rayap Pada Bangunan Rumah Rakyat Di Tiga Kecamatan Propinsi Sumatera Barat. Skripsi. Jurusan Teknologi Hasil Hutan. Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor.

Ridwan, M. 2000. Studi Pengembangan Kayu Awetan Dalam Pembangunan Perumahan Di Kotamadya Bogor. Skripsi. Jurusan Teknologi Hasil Hutan. Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor.

Sitepu, A.J.M. 1989. Tinjauan Ekonomi Pengawetan Kayu Bangunan Perumahan Di Perumnas Depok. Skripsi. Jurusan Teknologi Hasil Hutan. Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor.